Bengkak Di Lutut Tidak Selalu Asam Urat


 

Seperti  biasanya pekerjaanku sebagai seorang ibu rumah tangga sudah selesai  usai shalat dzuhur. Aku lalu pergi tidur siang, sekedar melepas lelah setelah bekerja. Posisi  tidur aku pasang telentang dengan kaki membujur lurus sambil merasakan desiran angin dari jendela kamarku yang lebar. Supaya angin tidak terlalu menerpaku dan sinar  matahari tidak menyilaukan, gorden aku tutup. Aku rasakan tubuh sangat lelah. Selain pekerjaanku, juga seminggu yang lalu aku setiap hari harus keluar rumah hingga malam. Belum lagi keesokan harinya aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang agak terbengkalai karena memang hanya aku yang mengerjakan semua pekerjaan di  rumah.

Esok paginya aku terbangun. Lutut belakang kaki kananku terasa pegal sekali, seperti habis perjalanan jauh. Tidak diikuti dengan rasa ngilu.  Rasa pegal ini sering aku rasakan jika aku banyak melakukan aktifitas jalan cukup jauh. Biasanya jika diolesi “Balsem Geliga”,  pegalnya  hilang. Tapi nyatanya rasa itu justru semakin melebar hingga ke daerah betis dan paha diikuti rasa berdenyut. Sakit sekali. Lalu ku lanjutkan dengan terapi dengan Alat Bio Energi. Aku berharap rasa nyeri akan hilang.

Terapi dengan Bio Energi pada posisi lipatan lutut luar dan belakang lutut masing-masing 20 menit dengan suhu sedang.  Rasa nyaman sementara waktu aku rasakan dan  nyeri sedikit berkurang.   Namun itu tidak berlangsung lama. Malam harinya kembali rasa pegal di lutut terasa, diikuti ngilu dan berdenyut-denyut.  Yang lebih payah lagi, aku mulai merasakan  sulit jika buang air kecil berjongkok. Aku  khawatir terkena asam urat.

Aku coba mengingat-ingat apa saja yang telah aku makan dalam seminggu ini.  Memang ada yang berpurin tinggi dari golongan kacang-kacangan. Yang lainnya aku makan  telur dan ayam. Yang terbanyak kacang-kacangan. Telur hanya 2 butir dan ayam 2 potong.  Dengan kondisi ekonomi yang serba pas-pasan, dengan biaya sekolah anak yang sangat tinggi, tidak memungkinkan aku harus mengeluarkan dana besar untuk kebutuhan dapur  rumah tangga.  Praktis dari segi gizi masih belum mencukupi. Ditambah pekerjaan lain diluar rumah tangga yang juga harus kulakukan  untuk mencukupi kebutuhan sekolah anak-anak.

Esok paginya , kaki terasa semakin berat untuk melangkah.  Nampak lutut mulai membengkak. Jalan mulai diseret dan tertatih-tatih. Kupaksakan untuk menuruni tangga rumah, karena aku harus menyiapkan makan sahur keluarga.  Alhamdulillah dengan menahan sakit,  pekerjaan selesai.  Siangnya aku sudah tidak bisa menaiki tangga rumah lagi. Shalat juga terpaksa duduk di kursi. Telapak kaki kanan harus dimiringkan jika harus melangkah. Rasa panas mulai menjalar  hingga ke pangkal paha.  Aku bertahan untuk tidak ke Dokter ataupun rumah sakit. Aku akan mencoba mempelajari  sendiri  penyakitku, tanpa harus bergantung dengan pengobatan medis terutama obat-obat kimia.

Siang itu aku mulai melakukan diet makanan yang aku makan. Aku hanya menyantap nasi dan sup labu siam dengan wortel dan jagung, tanpa lauk pauk sedikitpun.  Aku mulai meminum herbal untuk memperlancar pembuangan air seni, herbal untuk mengurangi pembengkakan (oedema) yang sudah menjalar dijari-jari kaki dan pangkal paha, herbal untuk nyeri tulang, herbal untuk relaksasi otot, herbal untuk memperlancar pembuluh darah, habbatussauda oil dan air zam-zam.  Menjelang tidur malam aku juga melakukan kompres es di seputar lutut, tepi luar paha, seputar mata kaki dan betis. Kompres ini bertujuan untuk mengurangi peradangan yang membuat kaki menjadi sangat sakit jika digerakkan dan disentuh.

Usai kompres es, perlahan rasa nyeri berkurang. Lutut mulai bisa digerakkan ke kiri dan ke kanan. Meskipun begitu kaki masih terasa berat dan kaku sekali untuk menaiki tangga. Tidur pun sudah tidak bisa miring kekanan dan kekiri. Belakang lutut pembuluh darah masih berdenyut-denyut kencang.

Pagi harinya aku memutuskan untuk ke laboratorium. Dengan sedikit pengetahuan tentang laboratorium, aku meminta untuk tes fungsi ginjal, urinalisa lengkap sewaktu, dan gula darah puasa. Petugas laboratorium menduga aku terkena chikungunya. Sementara aku berpikir lebih jauh kalau aku terkena asam urat kronis. Sore harinya kudapat hasilnya: asam urat  2,8l, ureum 13 dan cretinin  0,5 atau  jauh dibawah normal, gula darah puasa 78, tetapi ada sel darah putih yang larut bersama urin. Kesimpulannya, aku ada gejala kerusakan di hati dan peradangan di ginjal. Keluhan di hati memang sering aku rasakan jika aku kelelahan atau mangkel. Sedangkan sebelum kakiku sakit, daerah pinggang kanan sudah terasa pegal sekali.

Setelah mendapat data tersebut, aku kemudian hanya minum herbal untuk ginjal dan hati, nutrisi untuk mengurangi oedema, temulawak dan madu bee pollen. Buah semangka juga aku makan dalam jumlah banyak, supaya memperlancar pembuangan cairan melalui urin/pipis. Esok paginya, kaki sudah tidak bengkak lagi dan aku sudah lebih percaya diri untuk naik turun tangga sendiri. Hari ini aku sudah bisa duduk nyaman dan berusaha berbagi kisah ini. Alhamdulillah aku terbebas dari perasaan akan derita penyakit asam urat yang berlanjut dengan gagal ginjal dan berharap hari kelima kakiku sudah normal kembali. Amin.

 

Kisah nyata dari seorang ibu.

 

 

 

Tinggalkan Balasan ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s